Senin, 17 Februari 2014

Posted by Fadil Arif | File under :

Versi Jawa

Oleh orang Jawa, permainan Jailangkung dikenal dengan sebutan "Nini Thowong" atau "Nini Thowok". Permainan ini tidak hanya dikenal sebagai permainan tradisional anak-anak, tapi juga dilakukan sebagai usaha menjaga keselamatan desa dan menolak bala. Untuk tujuan tersebut, ritual ini dilakukan bukan oleh anak kecil, melainkan orang yang sudah dewasa.
Versi Jawanya juga dapat dimainkan dengan menggunakan peralatan tulis jangka. Versi permainan yang berkembang di daerah-daerah khususnya di pulau jawa, umumnya dahulu dimainkan di desa-desa dengan menggunakan medium orang-orangan sawah untuk memanggil makhluk halus.

Versi Minangkabau

Ritual serupa yang dikenal orang Minangkabau disebut "Lukah Gilo". Permainan ini berkembang dalam bentuk seni pertunjukan di Desa Lumpo Timur, Kecamatan Ampek Balai Juran, Kabupaten Pesisir Selatan. Pertunjukan ini dimainkan oleh seorang pawang atau "Dukun Lukah" dan satu sampai empat orang pemain yang bertugas memegang "lukah" tersebut. "Lukah" adalah alat untuk menangkap ikan air tawar yang terbuat dari bambu yang dianyam, bentuknya menyerupai vas bunga. Keranjang "Lukah" ini digunakan untuk pertunjukan Lukah Gilo dengan mendandaninya menyerupai orang-orangan seperti halnya dalam permainan Cay Lan Gong. Tangannya dibuat dari kayu lurus atau bambu, dan kepalanya dibuat dari labu atau tempurung kelapa. "Lukah" itu juga dirias dengan kain, baju, selendang, korset, dan wajahnya dirias layaknya perempuan.
"Lukah" tersebut kemudian dibisiki mantra oleh pawangnya hingga menjadi "gila" karena bergerak kian kemari. Gerakan itu akan semakin menjadi-jadi setiap kali pawang membaca mantra. Yang menjadi tontonan dalam pertunjukan ini adalah para pemain yang memegang lukah itu. Mereka akan terbawa kian kemari seiring semakin meng"gila"nya "lukah" tersebut. Penonton pun akan menyoraki pemain agar suasana semakin ramai. Gerakan "lukah" tersebut baru akan berhenti apabila pawang berhenti memantrainya atau ada seseorang yang memasang "ijok", yaitu bagian dalam dari ekor lukah.
Pertunjukan "Lukah Gilo" ini biasanya dipertunjukkan pada acara perkawinan atau acara-acara khusus untuk yang diadakan masyarakat Minangkabau setempat. Waktu pertunjukan umumnya dilakukan pada malam hari yang diyakini lebih mudah untuk memanggil makhluk halus.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Jailangkung#Versi_Jawa

Posted by Fadil Arif | File under :

Sejarah

Asal penggunaan istilah "Jailangkung" diduga berhubungan dengan sebuah Kepercayaan tradisional Tionghoa yang telah punah. Ritual ini adalah tentang adanya kekuatan dewa "Poyang" dan "Moyang" (mirip istilah "nenek moyang") yaitu Cay Lan Gong ("菜篮公", "Dewa Keranjang") dan Cay Lan Tse yang dipercaya sebagai dewa pelindung anak-anak. Permainan Cay Lan Gong juga bersifat ritual dan dimainkan oleh anak-anak remaja saat festival rembulan.
Dalam ritual Cay Lan Gong, dewa "Poyang" dan "Moyang" dipanggil agar masuk ke sebuah boneka keranjang yang tangannya dapat digerakkan. Pada ujung tangan boneka tersebut diikatkan sebuah alat tulis, biasanya kapur. Boneka tersebut juga dihiasi dengan pakaian manusia, dikalungi kunci dan dihadapkan ke sebuah papan tulis, sembari menyalakan dupa. Saat boneka tersebut menjadi terasa berat menurut mereka menjadi pertanda bahwa boneka itu telah dirasuki dewa, dan bergerak mengangguk sebagai pertanda setuju setelah ditanyakan siap tidaknya untuk ditanyai, jawaban-jawaban dari pertanyaan yang diajukan akan dituliskan oleh dewa yang merasuki boneka tersebut pada papan tulis yang disediakan.
Ritual Cay Lan Gong sendiri telah punah di Tiongkok, namun diduga ritual dan namanya kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia, menjadi Jailangkung dan masih hidup karena hubungan negeri Tiongkok dan Nusantara yang telah berlangsung ribuan tahun. Berbeda dengan Cay Lan Gong, media yang digunakan untuk menampung dewa yang dipanggil dalam Jailangkung adalah gayung penciduk air yang diiringi dengan nyala kemenyan dan perapian. Jaman dahulu gayung terbuat dari tempurung kelapa yang digagangi kayu, sehingga dalam perkembangannya, permainan Jailangkung di Nusantara lebih dikenal dengan ritual pemanggilan dewa lewat boneka berkepala tempurung kelapa yang didandani pakaian. Tetap sebagai permainan anak, boneka ini akan dipegang oleh dua anak yang masih kecil dan dipandu oleh seorang pawang yang memanggil dewa dengan sebuah mantra. Jawaban dari semua pertanyaan akan dituliskan pada sehelai kertas, batu tulis atau kapur. Ritual ini dalam perkembangannya di Indonesia mulai digunakan untuk hal-hal selain permainan belaka, seperti untuk mencari informasi tentang diagnosa penyakit dan pengobatannya oleh praktisi kesehatan non-konvensional.

sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Jailangkung#Versi_Jawa
Posted by Fadil Arif |

PENJELASAN


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Jelangkung diartikan sebagai boneka (orang-orangan) yang dilengkapi alat tulis di bagian tangan atau tengahnya, digunakan untuk memanggil arwah untuk masuk ke dalam boneka tersebut, kemudian akanberlangsung tanya jawab. Jawaban sang arwah diberikan melalui tulisan tangan.
Tidak banyak yang tahu asal mula serta perkembangan Jelangkung di Nusantara.

Jelangkung merupakan permainan boneka kayu yang sarat akan kekuatan ghaib dimana para pemainnya memanggil atau mengundang roh atau hantu untuk datang. jaelangkung merupakan sebuah permainan warisan nenek moyang kita dulu dimana pertama kali jaelangkung merupakan permainan yang dahulu sangat digemari oleh orang-orang dulu karena sarat akan kekuatan ghaibnya ini akan berusaha memanggil makhluk gaib untuk masuk ke dalam boneka atau benda yang dibuat menyerupai orang-orangan tersebut dengan mantra manjur “Jelangkung jelangsat, di sini ada pesta, pesta kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak diundang, pergi tidak diantar” . Setelah mantera diucapkan maka jelangkung akan bergerak dengan sendirinya.
Biasanya permainan ini dilakukanoleh empat 3 orang' yaitu orang yang memangku/menggendong boneka jelangkung, yang membaca mantra, dan orang yang mempersiapkan alat tulis. Permainan ini kebanyakan dilakukan di tempat yang angker dan pada waktu malam hari, biasanya antara jam 10 malam keatas.
Permainan jaelangkung ini sangatberbahaya bagi orang awam dantidak mengerti akan alam ghaib, karena biasanya orang yang memainkan permainan ini akan terkena imbas dari permainannyaini, biasanya orang yang bermain jelangkung akan kemasukan oleh hantu-hantu jelangkung tadi alias"Kesurupan" bahkan sampai diteror oleh hantu-hantu jelangkung tersebut, maka kami menghimbau bagi orang yang suka bermain dengan permainan ini tapi yang awam akan dunia ghaib, dan hanya untuk menghilangkan rasa penasaran, saya sarankan lebih baik jangan!, karena sangat berbahaya bagi anda sendiri

NAH UDAH TAU KAN APA ITU JELANGKUNG



SUMBER


http://danielim7.blogspot.com/2012/09/boneka-terseram-di-dunia.html